Analisis Novel Sejarah Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer (Catatan Pulau Buru)

 

TUGAS BAHASA INDONESIA

ANALISIS NOVEL PERAWAN REMAJA DALAM CENGKERAMAN MILITER

KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

D

I

S

U

S

U

N

Oleh: Vanni

Kelas: XII IPA

 

Guru Mata Pelajaran

Intan purnama Sari, M. Pd

 

SMA METHODIST 3 PALEMBANG

TAHUN AJARAN 2020 – 2021

 

Judul Novel : Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer (Catatan Pulau Buru)

Pengarang : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Tahun Terbit : 2019, Cetakan keenambelas (Cetakan Pertama 2001)

Tebal Buku : 248 Halaman

 

A.   Sinopsis Novel “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’’

Novel Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer menceritakan tentang kehidupan para perawan remaja pada saat kolonial Jepang sekitar tahun 1942–1945 dimana pada saat itu juga terdapat perang Dunia II. Saat Pramoedya Ananta Toer berumur 18 tahun, tepatnya pada tahun 1943, ia mendengar janji pemerintah Balatentara Pendudukan Dai Nippon yang berjanji akan memberi kesempatan belajar pada para pemuda pemudi ke Tokyo dan Shonanto (Singapura). Tetapi janji itu hanyalah sebuah alasan semata yang bertujuan untuk menjadikan mereka “Jugun Ianfu” alias budak seks bagi serdadu Jepang. Janji tersebut hanyalah disebarkan lewat mulut ke mulut tanpa adanya bukti lisan apapun.

Para perempuan remaja itu terpaksa harus meninggalkan kampung halaman dan keluarga dan mereka juga harus menempuh pelayaran berbahaya. Tetapi semua itu bukan atas kemauan sendiri tetapi karena ketakutan orang tua mereka terhadap ancaman jepang. Para gadis remaja itu dijemput dari rumah masing-masing. Kemudian, mereka dikumpulkan disebuah tempat dan dibawa dengan menggunakan kapal laut ke berbagai wilayah diluar Jawa salah satunya adalah di Pulau Buru dan Maluku. Dengan kekalahan balatentara jepang mereka para perempuan remaja itu ditinggalkan begitu saja tanpa tanggungjawab, tanpa pembekalan dan tanpa terima kasih dari pihak Balatentara Dai Nippon. Mereka terpaksa hidup terlunta-lunta dan berusaha menghidupi sendiri. Mereka juga tidak mendapatkan perhatian dari keluarganya sendiri. Sebagai akibatnya, sampai 1979 atau sekitar 35 tahun, mereka menjadi buangan yang dilupakan. Mereka tidak pernah dicari keluarganya sendiri, mungkin mereka semua telah dilupakan oleh keluarganya. Mereka merindukan keluarga yang ditinggalkan, dan sebagian atau mungkin semuanya mempunyai keinginan kembali, sekali pun tidak tahu cara dan jalan yang harus ditempuh. Banyak diantara gadis gadis itu yang diperistri oleh orang asli setempat  (Suku Alfuru). Bahkan banyak diantara dari mereka yang meninggal sia-sia karena tidak adanya pengobatan dan seringnya wabah serta penyakit parasit, yang menjadi ciri setiap masyarakat terasing dan terbelakang.

 


B.    Bagian yang Termasuk Fakta

     Setelah membaca novel “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer,” penulis menemukan beberapa fakta yang benar-benar terjadi dimasa lampau sebagai berikut:

1. Buku perawan remaja dalam cengkeraman militer merupakan buku kelima karya  pramoedya  ananta toer dan kejadian dalam buku tersebut terjadi pada masa pendudukan jepang. Buku ini dibuat pada saat pramoedya dan teman-temannya di pengasingannya di Pulau Buru.

2. 1943-1945 : Perang Dunia II. Setelah Jerman, Jepang menduduki tempat kedua dalam kekuatan militer. Negara-negara barat demokratis dalam kurun ini oleh pers dinamai Negara-negara Sekutu. Negara-negara fasis-militeris Jerman, Italia, dan Jepang oleh pers dinamai Negara-negara As karena mereka membentuk As Berlin-Roma-Tokyo.

3. Tahun 1943 juga dibenarkan oleh Imam, lahir pada 1931, bekas pekerja PW Dok, Tanjung Perak, Surabaya, bahwa pengangkutan para pemuda dan pemudi itu sudah dimulai pada tahun itu.

 

 

C.   Analisis Kaidah Kebahasaan Teks Novel Sejarah “Perawan Remaja dalam       Cengkeraman Militer’’

   Penulis melakukan analisis kaidah kebahasaan terhadap novel Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer dan penulis menemukan kaidah kebahasaan sebagai berikut. 

         1. Kata yang Bermakna Lampau

      Penulis menemukan beberapa kata yang bermakna lampau dari kutipan novel tersebut, seperti:

a.)    Serdadu

Terdapat dalam kutipan novel “Salah seorang mengemukakan, ‘mereka adalah para pemuas nafsu serdadu-serdadu Nippon yang haus seks.” (PRDCM, 2019: Hal 39).

Saat ini kata serdadu di kenal sebagai Tentara. Menurut KBBI, kata serdadu adalah prajurit atau anggota Tentara.

b.)    Sasus

Terdapat dalam kutipan novel “Janji itu memang hanya sasus.” (PRDCM, 2019: Hal 6).

Kata sasus yang berarti desas-desus atau kabar angin. Kabar yang belum jelas kebenarannya.

c.)    Motor Keblak

Terdapat dalam kutipan novel “Kulo dipun pethuk motor keblak (sahaya dijemput dengan sepeda motor bersispan), kata Kartini.” (PRDCM, 2019: Hal 26).

Motor keblak yang memiliki arti sepeda motor bersispan atau sepeda motor dengan jok disamping.

d.)    Sahaya

Terdapat dalam kutipan novel “O, dekat saja dengan sahaya. Sahaya dari sukorejo, dekat semarang.” (PRDCM, 2019: Hal 67).

Kata sahaya saat ini dikenal sebagai saya. Menurut KBBI, kata sahaya adalah hamba atau budak.

2. Konjungsi Temporal dan Konjungsi Kronologis

      Penulis menemukan beberapa contoh konjungsi temporal dan konjungsi kronologis yang terdapat di dalam novel, seperti berikut:

a.)    Konjungsi Temporal

-          Setelah

Terdapat dalam kutipan novel “Setelah para perawan remaja itu jatuh dalam cengkeraman jepang, sulit bagi mereka untuk bisa melepaskan diri.”

(PRDCM, 2019: Hal 13).

-          Kemudian

Terdapat dalam kutipan novel “Kemudian dengan mudah kalian dapat bayangkan mereka itu berpaling ke belakang, pada manusia dan benda terkasih yang ditinggalkan.” (PRDCM, 2019: Hal 27).

-          Selanjutnya

Terdapat dalam kutipan novel “Selanjutnya ia bercerita punya dua orang satudara.” (PRDCM, 2019: Hal 52).

b.)   Konjungsi Kronologis

-          Sebelum

Terdapat dalam kutipan novel “Ini dilakukannya sebelum balatentara Sekutu mengambil-alih kekuasaan dan menerima penyerahan mereka.”

(PRDCM, 2019: Hal 22).

-          Lalu

Terdapat dalam kutipan novel “Dari percakapan sepintas lalu dengan para tahanan di Giripura dapat disadap bahwa ia berasal dari Pemalang, Jawa Tengah.” (PRDCM, 2019: Hal 88).


3. Kata Kerja yang Menggambarkan Suatu Tindakan (Verba Material)

     Penulis menemukan beberapa kata kerja yang menggambarkan suatu tindakan yang terdapat dalam kutipan novel, sebagai berikut:

a.)    “Pada suatu hari di tahun 1974 di Giripura, sewaktu ia sedang mencangkul seorang diri di ladang, jauh dari mana-mana, telah datang padanya seorang wanita setengah baya menggendong anak kecil.” (PRDCM, 2019: Hal 58).

b.)    “Mereka langsung masuk ke dapur tempat aku menemani Sardi memasak gula.” (PRDCM, 2019: Hal 66).

c.)    “Dan lelaki itu berdiri, berbicara dengan istrinya.” (PRDCM, 2019: Hal 67).

d.)    “Dan baru beberapa langkah berjalan Martin Wael telah menuntut batu baterai untuk senternya, yang ia dapat dari menukarkan dengan daging babi.”

(PRDCM, 2019: Hal 94).

e.)    “Kulihat Muka Wael berjongkok menunggui api, sedang matanya mengawasi kedatanganku.” (PRDCM, 2019: Hal 151).


4. Kata Kerja yang Menunjukkan Kalimat Langsung sebagai Cara Menceritakan Tuturan Tokoh oleh Pengarang

      Penulis menemukan beberapa kata kerja yang menunjukkan kalimat langsung dalam kutipan novel, sebagai berikut:

a.)    “Mau ke mana?” saya mendahului menegur. (PRDCM, 2019: Hal 49).

b.)    “Bapak dari Jawa bagian mana?” tanya F. (PRDCM, 2019: Hal 83).

c.)    “Berapa orang yang ikut?” tanya Surip. (PRDCM, 2019: Hal 120).

d.)    “Kau dari kampung mana?” yang kutanya diam saya. (PRDCM, 2019: Hal 140).

e.)    “Siapa yang memotong rambutmu?” tanyaku pada Maslehe yang berambut pendek. (PRDCM, 2019: Hal 189).


5. Kata Kerja yang Menunjukkan Kalimat Tak Langsung sebagai Cara Menceritakan Tuturan Tokoh oleh Pengarang

      Penulis menemukan beberapa kata kerja yang menunjukkan kalimat langsung dalam kutipan novel, sebagai berikut:

a.)    Pada Harun Rosidi Suwadi Hadisuwarno menerangkan bahwa mereka adalah S., J., dan R. (PRDCM, 2019: Hal 14-15).

b.)    Sumiyatilah yang mengatakan padanya bahwa dalam propaganda Pemerintah Pendudukan Balatentara Dai Nippon itu dikatakan: di dalam usaha mempersiapkan rakyat Indonesia ke arah kemerdekaan nanti sesuai dengan kehendak Nippon. (PRDCM, 2019: Hal 34).

c.)    Benar juga kata nenek itu: di seberang bukit yang sedang kami daki ada beberapa batang pisang di sana-sini. (PRDCM, 2019: Hal 94).

d.)    Ia bermaksud mengatakan: walau orang gunung kami tahu menghormat, tahu

bagaimana sebaiknya menerima tamu. (PRDCM, 2019: Hal 134).


6. Kata  Kerja Mental

      Penulis menemukan kata kerja mental yang dirasakan dan dipikirkan yang terdapat dalam kutipan novel, yaitu:

a.)    Kata kerja yang dirasakan yang terdapat dalam kutipan novel yaitu:

1.)    Bila seseorang pelajar jatuh pingsan karena tubuhnya sudah terlalu lemah, orang Jepang atau pelatih atau kepala rombongan, orang Indonesia, menyadarkannya dengan tamparan bertubi-tubi. (PRDCM, 2019: Hal 5).

2.)    Di antara para tapol memang belum ada yang terkena, tetapi tanda-tanda serangan itu sudah dapat dirasakan dengan semakin banyaknya orang menderita bengkak-bengkak di pangkal paha. (PRDCM, 2019: Hal 63).

3.)    Aku sendiri tak dapat menceritakan bagaimana rasa badanku, dingin, sakit di telapak kaki, lelah, mengantuk. (PRDCM, 2019: Hal 101).

4.)    Badanku mulai menggigil, namun alam ini belum juga puas menghukumku.

(PRDCM, 2019: Hal 161).

5.)    Ia diam saja, tetapi tubuhnya semakin gemetar. (PRDCM, 2019: Hal 228).

 

b.)     Kata kerja yang dipikirkan yang terdapat dalam kutipan novel yaitu:

1.)    Teringatlah aku pada kata-kata ibu tua itu yang diucapkan pada teman di Giripura itu. (PRDCM, 2019: Hal 108).

2.)    Baru aku teringat telah jatuh terpeleset dan terbentur batu runcing.

(PRDCM, 2019: Hal 219).

3.)    Ia sedang duduk merenungi sesuatu yang aku tak tahu. (PRDCM, 2019: Hal 227).

4.)    Hanya teringat olehku si Kakek menyebutkan nama-nama yang asing bagiku.

(PRDCM, 2019: Hal 240).

 


D.   Struktur Novel “Perawan  Remaja dalam Cengkeraman  Militer”

1.)    Perkenalan Situasi Cerita (Orientasi)

      Para perawan remaja itu masih lulusan SMP yang dijanjikan oleh Balatentara dari Nippon akan disekolahkan ke Tokyo dan Shonanto. Perawan remaja itu meninggalkan kampung halaman dan mereka dijemput di rumah masing-masing.

2.)    Pengungkapan Peristiwa (Komplikasi)

      Janji akan menyekolahkan para perawan remaja yang diberikan oleh Balantera dai Nippon itu tidak pernah diumumkan dengan resmi, terutama tidak pernah tercantum dalam Osamu Sertei (Lembaran Negara) dan para perawan remaja itu mulai ragu dengan maksud baik Jepang.

3.)    Menuju Konflik

      Para perawan remaja itu akhirnya tahu kalau janji yang telah diberikan itu hanyalah tipuan semata. Dan mereka malah dijadikan sebagai budak seks oleh Balantera Dai Nippon dan tidak disekolahkan ke Tokyo dan Shonanto.

4.)    Puncak Konflik

      Para perawan remaja itu terpaksa mengikuti perintah untuk melayani kebutuhan seks para serdadu Jepang yang sedang beristirahat di garis belakang. Tak ada yang bisa berbuat lain kecuali menyerah, menerima segala yang harus terjadi, tanpa perundingan, dengan hati pecah, sedih dan pilu.

 

5.)    Penyelesaian

      Mereka semua menjadi buangan di Pulau buru dan dilupakan. Para perawan remaja itu dilepas tanpa diberi tanggung jawab dan merea tidak mendapat perhatian dari keluarganya sendiri. Para perawan remaja itu mmenjadi Buangan selama 35 tahun. Mereka merindukan keluarga yang ditinggalkan dan mempunyai keinginan untuk kembali meski tidak tahu cara dan jalan yang harus ditempuh.

6.)    Koda

      Jangan mudah memberikan kepercayaan kita kepada seseorang yang baru kita kenal. Meskipun orang tersebut telah berjanji kepada kita.

 

 

E.    Unsur Pembangun Teks Novel “Perawan  Remaja dalam Cengkeraman  Militer”

1. Unsur Intrinsik (Unsur Pembangun dari Dalam)

      Unsur intrinsik di dalam novel Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer, yaitu:

a.)    Tema: Perbudakan seks terhadap perempuan Indonesia.

b.)   Amanat: Agar masyarakat sekitar atau para perempuan tidak boleh percaya kepada orang lain yang ingin menjanjikan suatu hal. Novel ini dibuat juga untuk memberikan pelajaran bagi kita semua agar kejadian yang seperti ini tidak terulang lagi.

c.)    Tokoh dan Penokohan

Penulis menemukan sifat tokoh melalui penokohan didalam kutipan novel ini yang tersirat maupun tersurat, yaitu:

1)  Siti F/ Nya Simbar: Perempuan yang menjadi korban tentara Jepang, cerdas, memiliki jiwa kepemimpinan dan ramah. (PRDCM, 2019: Hal 74).

Tersurat dalam kutipan novel: Ia memperlihatkan jiwa kepemimpinan, dihormati dan didengarkan oleh lingkungannya suatu keluarbiasaan pada wanita Alfuru.

2)  Sarony/ Polli: Pemuda yang mencari saudara perempuannya yang dibawa oleh Jepang, ramah, sopan, dan baik. (PRDCM, 2019: Hal 77).

Tersirat dalam kutipan novel: “Ibu sudah lama saya cari-cari mbaku saya. Yang saya temukan justru ibu.”

3)   Ibu Mulyati: Perempuan yang menjadi korban tentara jepang, berani menetang suaminya, berjiwa kepemimpinan yang tinggi dan baik. (PRDCM, 2019: Hal 116).

Tersurat dalam kutipan novel: Wanita yang berani menentang suaminya tersebut tak lain dari wanita jawa itu, yakni Mulyati.

Tersurat dalam kutipan novel: Wanita itu meninggalkan kampong diikuti oleh keluarga-keluarga lain dan membangun kampung baru.

4)  Sumiyati: Perempuan yang menjadi korban tentara jepang, Perempuan yang menjadi korban tentara jepang, tegar, mudah menyerah dan menerima semua yang telah terjadi. (PRDCM, 2019: Hal 41).

Tersurat dalam kutipan novel: Tak ada yang bisa berbuat lain kecuali menyerah, menerima segala yang harus terjadi, tanpa pelindung, dengan hati pecah, sedih dan pilu.

5)      Radius Susanto: Ramah. (PRDCM, 2019: Hal 49).

Tersirat dalam kutipan novel: “Mau kemana?” saya mendahului menegur.

6)      Sutinah: Ramah, lembut dan jujur tentang kehidupannya. (PRDCM, 2019: Hal 51).

Tersurat dalam kutipan novel: Setelah penjemput itu memperkenalkan aku, wanita itu menunjukkan senyum ramah.

Tersurat dalam kutipan novel: setelah saya mengiakan ia menjadi semakin ramah. Ia bercerita berasal dari Semarang.

7)      Suyud: Sopan dan baik. (PRDCM, 2019: Hal 51).

Tersirat dalam kutipan novel: pertemuan terjadi dibawah rumpun bambu dikampung Wai Grending. Sekali lagi saya sudah mengira ia bukan penduduk asli Buru.

8)      Sri Sulastri: Baik, sopan dan berkeinginan untuk bertemu keluarga.

(PRDCM, 2019: Hal 54).

Tersirat dalam kutipan novel: “Kalau sampean nanti pulan, tolong ajak saya, bawa saya ini. Saya akan sangat berterima kasih kalau sampean bisa bawa saya keluar dari daerah ini.”

9) Suwarti: Perempuan yang menjadi korban tentara jepang, baik dan jujur tentang kehidupannya. (PRDCM, 2019: Hal 56).

Tersirat dalam kutipan novel: “Saya berusia 14 dan sudah menyelesaikan SR “Kobong” lima tahun ketika pemerintah Balantera Dai Nippon dengan Santer mempropagandakan pada para gadis sebaya saya untuk melanjutkan pelajaran ke Tokyo.”

10) Bolansar/ Muka Jawa: Wanita buangan di pendalaman Pulau Buru, baik, lembut, bicaranya gemercik dan peduli kepada orang lain. (PRDCM, 2019: Hal 87 dan 105).

Tersurat dalam kutipan novel: Bolansar, dengan nama Buru Muka Jawa, adalah salah seorang dari wanita buangan di pendalaman Pulau Buru.

Tersurat dalam kutipan novel: Nanti ibu akan masakan sedikit daging untuk kalian.

11)  Martin Wael: Baik dan rendah hati. (PRDCM, 2019: Hal 93).

Tersirat dalam kutipan novel: seorang setengah baya, Martin Wael, merasa bangga bila disebut kepala adat muda, walau pun ia menolaknya dengan kata – kata, “Tidak usah, Bapa, panggil saja nama saya Martin.”

12)  Seling Wael: Ceria dan baik. (PRDCM, 2019: Hal 96).

Tersirat dalam kutipan novel: Martin Wael dan Seling Wael mengikuti kami sambil bersenandung lagu buru.

13)  Wai Durat: Pandai berbahasa buru dan ramah. (PRDCM, 2019: Hal 100).

Tersurat dalam kutipan novel: kelancarannya berbahasa buru sangat membantunya dalam membuka hati penduduk.

14)  Lige: Kepala adat kampung dan ramah. (PRDCM, 2019: Hal 113).

Tersirat dalam kutipan novel: “Seperti saudara saya,” ulang Sarony, dan Lige mendongakkan dagu, mengiakan.

15) Mate Temon Latun: Kepala Soa Wai Temon Latun, pemarah, seorang jawara yang ditakuti dan takut kepada istrinya yaitu Mulyati. (PRDCM, 2019: Hal 116).

Tersurat dalam kutipan novel: Mate Temon Latun, demikian diceritakan oleh penduduk, adalah seorang jawara yang ditakuti di kampung – kampung hilir.

Tersurat dalam kutipan novel: Tetapi sang jawara tidak dapat menundukkan istrinya yang pertama.

16)  Kima Wael: Keras kepala (PRDCM, 2019: Hal 118).

Tersirat dalam kutipan novel: Kima Wael yang berhati keras telah menjelajahi dan menaklukkan kegersangan alam.

17)  Karno: Raut mukanya tajam, perhatian/ peduli, dan bijaksana.

(PRDCM, 2019: Hal 122).

Tersirat dalam kutipan novel: “Sebaiknya kita sarapan dulu,” usul Karno.

18)  Nur: Pemuda yang terpandang, terpelajar dan baik. (PRDCM, 2019: Hal 124).

Tersurat dalam kutipan novel: Di desanya ia termasuk pemuda terpandang dan terpelajar.

19)  Sugito/ Mantir/ Mantri: Suka menolong penduduk yang sakit dan baik hati.   

      (PRDCM, 2019: Hal 121).

Tersurat dalam kutipan novel: Ia telah banyak menolong penduduk yang sakit sehingga mendapatkan nama barunya itu sepatah ucapan salah dari: Mantri.

20)  Noro: Baik, suka menolong, dan pemberani. (PRDCM, 2019: Hal 167).

Tersirat dalam kutipan novel: “Nait, Noro, dan Putih akan membantu kalian,”

21)  Putih: Baik dan suka menolong. (PRDCM, 2019: Hal 167).

Tersirat dalam kutipan novel: “Nait, Noro, dan Putih akan membantu kalian,”.

22)  Bambu/ Mana Sambur: Baik dan bijaksana.

(PRDCM, 2019: Hal 155).

Tersirat dalam kutipan novel: Dan Bambu hanya tertawa.

Tersirat dalam kutipan novel: “Aku ingin punya anak, Pak Polli,” kata Bambu dengan suara dalam.

23)  Muka Kado: Istri Bambu, mendengarkan perkataan suaminya/ penurut dan baik.

(PRDCM, 2019: Hal 155).

Tersurat dalam kutipan novel: ketika ia datang menghantarkan baju yang diminta suaminya aku sempat memperhatikannya.

24)  Man Kuning: Suaranya keras dan beribawa. (PRDCM, 2019: Hal 134).

Tersurat dalam kutipan novel: “Man kuning,” terdengar jawaban singkat dari belakangku. Suaranya keras dan beribawa.

25)  Nait: Baik, lembut, peduli, suka menolong dan penyayang. 

      (PRDCM, 2019 Hal 136-137).

Tersurat dalam kutipan novel: Bocah yang tadi menangis ditimang, diciumnya. Airmata yang meleleh pada pipi si bocah seketika menjadi kering karena ciuman dan kehangatan hati yang menyayang.

Tersurat dalam kutipan novel: “Nait, temanku Mantri sering menceritakan kebaikanmu.”

26)  Pulli: anak kecil yang sudah kehilangan ibunya pada usia tiga bulan cengeng dan manja. (PRDCM, 2019 Hal 136-137).

Tersurat dalam kutipan novel: Bocah ini telah kehilangan air susu ibunya sejak berumur tiga bulan.

27)  Kakek/ Mana Kedan: Pemarah dan bijaksana. (PRDCM, 2019 Hal 173).

Tersurat dalam kutipan novel: “Ngama, Ngama jangan marah begitu. Kami datang untuk bersahabat.”

28)  Man Beta Latun: Kepala adat Wai Temon, bijaksana dan sayang kepada istrinya.

(PRDCM, 2019 Hal 180).

Tersirat dalam kutipan novel: Man Beta memaklumi perasaan Mana Sambur yang khawatir kata-kata dan pendapatnya akan melukai hati ayahnya.

29)  Fina: Istri Man Beta Latun dan ramah. (PRDCM, 2019 Hal 219).

Tersirat dalam kutipan novel: Ia menyambut aku dengan senyuman.

30)  Notan: Figuran                                             

31)  Nur Wael: Figuran

32)  Nur Latun: Figuran

33)  Sehu Wael: Figuran

34)  Surip: Figuran

35)  Muka Wael: Figuran

36)  Maslehe: Figuran

37)  Kartini: Figuran

38)  Daswian/ Oking: Figuran

39)  Kakasih: Figuran

40)  Sukini: Figuran

41)  Haryono: Figuran

42)  Pemuda Nisoni: Figuran

d.)   Sudut Pandang

Penulis menemukan sudut pandang yang terdapat novel ini yaitu, menggunakan sudut pandang orang ketiga (Pengarang serba tahu). Karena pengarang mengetahui semuanya tentang tokoh, peristiwa, dan masalah-masalah yang ada di dalam cerita.

e.)    Latar

Penulis menemukan latar (tempat, waktu, suasana) didalam novel ini, yaitu:

1.)    Latar tempat

Pulau Buru, gunung, ladang, gubuk, kebun, pondok, dapur, hutan, kamar, sungai Wai Apu, rumah kepala Soa, sungai Wai Lo, rawa, Tanjung Priok, Tanjung Perak, kapal, bukit, tebing, lembah Nur Latun, Wai Tina Dara (Sungai Tiga Dara), Pelabuhan Sodong, kampung Wai Grending dan Bukit Fatubesi.

2.)    Latar waktu

Penulis menemukan beberapa waktu di novel ini, yaitu pada massa pendudukan Jepang, Maret 1942 sampai Agustus 1945.

3.)    Latar suasana

-          Suasana menyenangkan:

Pada saat mereka naik ke kapal mereka nampak gembira dengan menyanyi lagu-lagu Jepang, lagu-lagu sekolahan, dan Mars Militer. Dan dikapal terdengar mereka tertawa-tawa. (PRDCM, 2019: Hal 31).

-          Suasana menegangkan

pada saat para perwira Jepang serentak melakukan serbuan terhadap para perawan itu, memperkosa dan menghancurkan idealisme menjadi pemimpin di kemudian hari. Mereka berlarian di geladak kapal, mencoba menyelamatkan tubuh dan kehormatan masing-masing. Tak seorang pun dapat lepas dari terkaman. Seorang gadis naik ke menara dalam usaha menceburkan diri ke laut. Ia pun tertangkap oleh Jepang yang memburunya, dengan kaki dan tangan lebih terlatih. (PRDCM, 2019: Hal 33).

-          Suasana menyedihkan

Pada saat mereka harus melayani kebutuhan seks para serdadu Jepang yang sedang beristirahat di garisbelakang. (PRDCM, 2019: Hal 41).

f.)     Alur

Novel Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer menggunakan alur maju (Progresif). Karena beberapa peristiwa tokoh yang diceritakan secara runtut (bersesuaian).

 

2. Unsur Ekstrinsik (Unsur Pembangun dari Luar)

a.)    Biografi Pengarang

         Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah 6 Februari 1925 dan meninggal pada tanggal 30 april 2006 (saat usia nya menginjak 81 tahun). Selain sebagai pengarang, bermacam profesi telah ia jalani. Menulis sejak di bangku sekolah dasar, hingga kini ia telah menghasilkan tidak kurang dari 35 buku, fiksi maupun nonfiksi. Karya karya yang terbit pada masa Orde Baru dilarang oleh pemerintah.  Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer adalah karya kelima Pramoedya. Novel ini disusun berdasarkan keterangan teman teman sepembuangan Pramoedya ananta toer di Pulau Buru, serta hasil pelacakan mereka terhadap para budak seks yang ditinggalkan begitu saja di Pulau Buru, setelah Jepang menyerah pada tahun 1945. Awalnya, cerita perawan remaja berupa fotokopi naskah yang ditulis dengan mesin ketik. Banyak hurufnya yang sudah tidak jelas, dan beberapa bab diuraikan berulang. Menurut pramoedya, pengulangan terjadi karena dia, sebagai tahanan yang diberi hak menulis, belum sempat menuliskan semua bahan yang diterimanya menjadi naskah yang runtut. Kini, setelah bebas, kondisi kesehatannya menghalangi dia untuk bergelut dengan dunia tulis-menulis secara intens. Karena itu, setelah diketik ulang, redaksi menyusun kembali naskah tersebut dan menyunting seperlunya. Alasan di terbitnya novel ini karena masih sedikitnya catatan sejarah tentang perbudakan seks balatentara jepang terhadap perempuan indonesia.

 

b.)   Nilai - nilai yang terdapat dalam Novel Perawan Remaja dalam cengkeraman Militer

1.)    Nilai Moral

Penulis menemukan nilai moral yang terkandung dalam novel ini, yaitu:

“Kasihan. Tadi malam ibu tak sempat menemui kalian, dan kalian makan hanya dengan garam. Nanti ibu akan masakkan sedikit daging untuk kalian.”

(PRDCM, 2019: Hal 105).

Dari kutipan novel tersebut bahwa ibu Muka Jawa memiliki sifat yang baik dan mau membantu orang.

2.)    Nilai Kepahlawanan

Penulis menemukan nilai kepahlawanan yang terkandung dalam novel ini, yaitu:

Ibu rida yang rela berkorban untuk bisa mengabdi lebih baik pada nusa dan bangsa. Akan tetapi tentara jepang telah merusak semua harapannya itu.

3.)    Nilai Sosial

Penulis menemukan nilai sosial yang terkandung dalam novel ini, yaitu:

Membantu menguburkan jenazah ibu mulyati yang bukan keluarga sendiri.

4.)    Nilai Budaya

Di dalam novel ini memiliki adat yang harus membayar sejumlah harta pada marga agar perkawinannya dianggap sah dan baru boleh membawa istrinya.

 

c.)    Situasi dan Kondisi

Penulis menemukan situasi dan kondisi yang terkandung dalam novel ini, yaitu:

Situasi dan Kondisi Novel Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer yaitu novel ini dibuat pada masa pendudukan jepang. Dan situasi dan kondisi pada novel ini benar-benar terjadi berdasarkan keterangan teman-teman sepembuangan Pramoedya ananta toer di Pulau Buru.

 

 

F.    Unsur Kebahasaan yang terdapat di Novel Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer

Penulis menemukan beberapa unsur kebahasaan yang terdapat di novel ini, yaitu:

1. Gaya Bahasa Perbandingan

A.    Majas Personifikasi

1.)    Matahari tak kunjung tersenyum. Awan hitam makin tebal, digiring angin memayungi Bukit Talangkera. (PRDCM, 2019: Hal 129).

2.)    Air hujan menampar wajah, terasa pedih di kulit, membuat mata tak dapat terbuka sepenuhnya. (PRDCM, 2019: Hal 161).

3.)    Gemercik air menerjang batu bersaing dengan bisik-desus dedaunan dan ranting yang diterjang. (PRDCM, 2019: Hal 184).

4.)    Matari telah menelan bayang-bayang. (PRDCM, 2019:  Hal 188).

5.)    Rumput trenyu bebas bergaul dan berpelukan dengan perdu, disaksikan oleh sebatang nyiur yang berdiri sendirian di seberang sungai dengan daun melambai-lambai minta ditemani. (PRDCM, 2019: Hal 196).

B.     Majas Metafora

1.)    Sinar matari pagi tak mampu mempunyai kehangatannya, karena sang mega hitam memayungi Gunung Batabual. (PRDCM, 2019: Hal 124).

2.)    Pak Mantir yang banyak tanam budi sama yako punya saudara.

(PRDCM, 2019: Hal 137).

C.     Majas Simile

1.)    Setelah Jepang bertekuk lutut, gadis-gadis itu laksana anak ayam kehilangan induk. (PRDCM, 2019: Hal 42).

2.)    Sedang rombongan ikan lari menghilang ke balik dedaunan bagaikan perawan bangun kesiangan di hadapan calon mertua. (PRDCM, 2019: Hal 122).

3.)    Margasatwa sejenis pun ikut menjerit-jerit, seakan semua ikut berdukacita.

(PRDCM, 2019: Hal 138).

4.)    Bagaikan burung dilepas dari kandang para wanita itu terbang mengerumuni aku dan Nur yang telah kembali menemani aku. (PRDCM, 2019: Hal 145).


2. Gaya Bahasa Pertentangan

A.    Majas Paradoks

1.)    Langkahnya gesit walau potongan tubuhnya tergolong pendek.

(PRDCM, 2019: Hal 124).

B.     Majas Hiperbola

1.)    Rasanya aku ingin pingsan karena terkejut waktu wanita setengah baya itu bertanya padaku dalam Jawa Krama inggil. (PRDCM, 2019: Hal 67).

2.)    Napasku sudah seperti kerbau menarik pedati di terik matahari.

(PRDCM, 2019: Hal 91).

 

 

Komentar